Toxic Masculinity
Konsep maskulinitas masih sering dianggap sebagai suatu fenomena yang tidak perlu mendapatkan perhatian. Ide tentang kelelakian masih sering dianggap sebagai sebuah konsep yang secara sosial tidak banyak dibatasi (Nodelman, 2002: 1-2). Hal ini berarti bahwa hal-hal yang sudah dipersepsi sebagai hal-hal yang tidak bisa dipisahkan dari laki-laki, misalnya keberanian dan kekuatan dipandang sebagai sifat yang membatasi. Sebaliknya, sifat-sifat tersebut dalam masyarakat dianggap sebagai sifat positif yang harus banyak diadopsi dalam masyarakat. Hal ini berbeda dengan konsep femininitas. Segala hal yang berhubungan dengan perempuan seperti penggunaan make up dan pakaian yang menonjolkan femininitas masih sering dipandang sebagai hal-hal yang membatasi ruang gerak perempuan.
Toxic masculinity adalah ketika laki-laki disosialisasikan untuk menjadi maskulin dan tidak boleh mengekspresikan emosi. Istilah tersebut muncul dari sosialisasi-sosialisasi peran gender sejak kecil. Ketika kita tumbuh, biasanya terdapat sosialisasi peran gender. Jika anak perempuan itu disosialisasikan dengan peran gender feminin, kemudian anak laki-laki disosialisasikan dengan yang maskulin. Otomatis hal tersebut berada pada masyarakat, dari hal tersebut, mempelajari cara-cara berperilaku, budaya-budaya yang ada, seseorang akan mewariskan juga sesuatu yang memang sudah ada turun-temurun dan termasuk bagaimana cara memperlakukan laki-laki dan perempuan. Definisi yang dipaparkan dalam sebuah studi yang dimuat dalam Journal of Psychology. Studi ini mengartikan toxic masculinity sebagai kumpulan sifat maskulin dalam konstruksi sosial yang difungsikan untuk mendorong dominasi, kekerasan, homofobia, dan perendahan terhadap perempuan. Dari definisi di atas, pengertian toxic masculinity memang sesuai dengan makna harafiahnya, yakni maskulinitas beracun. Artinya, orang yang menunjukkan perilaku itu memiliki kecenderungan untuk melebihkan standar pada laki-laki. Stigma tersebut bahkan terus bermunculan hingga saat ini.
Berikut beberapa contoh perwujudan toxic masculinity yang kerap dilakukan maupun disematkan pada laki-laki, yaitu
1. Tidak boleh mengeluh dan menangis.
2. Melakukan tindak kekerasan pada orang lain.
3. Menunjukkan dominasi dan kekuasaan terhadap orang lain.
4. Melakukan kekerasan dan agresivitas seksual terhadap pasangan dan orang lain.
5. Merasa tidak perlu membela hak perempuan dan kaum marjinal lain.
6. Mengagungkan tindakan berisiko, seperti menyetir kendaraan dengan kecepatan tinggi dan mengonsumsi obat terlarang .
7. Enggan untuk melakukan aktivitas yang dianggap hanya milik perempuan
Toxic masculinity juga memberikan beban pada laki-laki yang dianggap tidak memenuhi standar maskulinitas diatas. Apabila seorang pria dibesarkan melalui pandangan sempit toxic masculinity, ia akan merasa bahwa ia hanya bisa diterima masyarakat dan lingkungannya jika menunjukkan perilaku beracun tersebut. Dari contoh atas, misalnya, beberapa pria diajarkan untuk tidak menunjukkan kesedihan atau tangisan. Menunjukkan rasa sedih dan menangis dianggap sebagai karakteristik feminin dan hanya boleh dilakukan oleh perempuan. Ajaran tersebut tentu berbahaya bagi kesehatan mental dan fisik kaum laki-laki bahwa menahan emosi menimbulkan kerentanan depresi.
Salah
satu cara untuk menghentikan siklus toxic masculinity adalah mengajarkan
anak sejak dini, terutama anak laki-laki. Seperti halnya, sampaikan bahwa anak
laki-laki juga boleh menangis dan mencurahkan apa yang dirasakan, hindari
ujaran yang merendahkan perempuan, seperti, “Kamu berbicara seperti
perempuan” atau “Jangan berjalan seperti perempuan ya”. Ajarkan konsep
konsensual sejak dini yang sesuai dengan umur anak. Misalnya, sampaikan bahwa
setiap orang memiliki batasan yang tidak bisa sembarangan dilewati. Anda juga
bisa mengajarkan bahwa tubuh setiap orang adalah milik orang tersebut sehingga
ia tak bisa sembarangan menyentuh atau memeluk tanpa izin orang lain.
artikel telah di posting di dunia kampus 4.0- :https://www.duniakampus40.net/
Komentar
Posting Komentar